Home / Diskominfo PPU / Festival Belian Nondoi 2025 Resmi Dibuka, PPU Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya

Festival Belian Nondoi 2025 Resmi Dibuka, PPU Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya

Kaltimzone.com, PENAJAM — Denting musik tradisional dan tabuhan gendang menggema di halaman Rumah Adat Kuta Rekan Tatau pada Senin (3/11/2025) siang.

Di tengah suasana sakral dan aroma dupa, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor menapaki panggung kehormatan untuk membuka Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025.

Festival ini menjadi yang pertama digelar pada masa kepemimpinan Bupati Mudyat Noor.

Kehadirannya sekaligus menghadirkan energi baru dalam upaya pelestarian budaya di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), yang sebagian wilayahnya berada di Kabupaten PPU.

Belian Nondoi bukan sekadar ritual, melainkan doa bersama masyarakat adat Paser untuk memuliakan alam, menghormati leluhur, dan menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi ini lahir dari komunitas adat di Kelurahan Sepan dan mulai diperkenalkan ke tingkat kabupaten sejak 2014 hingga menjadi agenda budaya tahunan.

Setiap kali digelar, Belian Nondoi selalu menghadirkan simbol-simbol penyucian serta doa keselamatan bagi negeri, sebagai cerminan hubungan harmonis masyarakat Paser dengan alam.

Festival tahun ini mengusung tema “Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai”, yang berarti Satu Ikatan Sebangsa, Satu Tanah Air.

Tema tersebut mengandung pesan persatuan, gotong royong, dan solidaritas di tengah keberagaman.

Rangkaian acara dibuka dengan parade budaya dari berbagai OPD, sanggar seni, hingga paguyuban daerah.

Ragam busana adat dan tarian tradisional menambah semarak perjalanan menuju lokasi festival.

Suasana sakral mencapai puncaknya saat prosesi adat Notok Towu digelar.

Dalam prosesi ini, Bupati, Wakil Bupati, dan Ketua DPRD PPU dinobatkan sebagai warga kehormatan masyarakat adat Paser oleh Ketua Lembaga Adat Paser (LAP) dan Ketua Umum DPP LAP.

Ribuan warga turut menyaksikan penobatan yang sarat makna tersebut.

Acara berlanjut dengan pemotongan tebu serta penyerahan kelapa dari tamu kehormatan kepada Sultan Paser dan jajaran adat sebagai simbol kesucian, keseimbangan, dan harmoni.

Ketua LAP PPU, Musa, menjelaskan bahwa filosofi Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai telah lama menjadi pedoman hidup masyarakat adat Paser.

Ia menegaskan pentingnya menjaga Belian Nondoi agar tidak tergerus oleh modernisasi.

Festival ini, katanya, menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya leluhurnya, sekaligus membuka peluang wisata budaya yang mampu mendorong ekonomi lokal.

Musa juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU yang tahun ini menuntaskan masa tugasnya, serta kepada Bupati dan Ketua DPRD yang dinilai serius mendukung pelestarian budaya daerah.

Bupati Mudyat Noor dalam sambutannya menegaskan bahwa budaya merupakan fondasi pembangunan berkelanjutan, terlebih di tengah dinamika pembangunan IKN.

“Melalui Festival Belian Adat Paser Nondoi ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga budaya lokal sebagai jati diri bangsa,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai budaya Paser tetap relevan sebagai kekuatan moral untuk menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi.

Bupati memberikan apresiasi kepada para pemangku adat, budayawan, seniman, dan masyarakat yang selama ini menjaga keberlangsungan tradisi Belian Nondoi.

Ia berharap festival ini menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar semakin mencintai budaya daerah.

Pemerintah Kabupaten PPU, lanjutnya, berkomitmen melanjutkan program pembinaan, dokumentasi, dan promosi budaya Paser hingga ke tingkat nasional bahkan internasional.

Setelah sambutan, prosesi pemasangan Gitang dan Tipong Tawar dilakukan kepada Bupati, Wakil Bupati, dan Ketua DPRD sebagai simbol penyucian diri.

Penabuhan gendang bersama kemudian dilakukan oleh jajaran pejabat, pemangku adat, hingga tokoh Forkopimda.

Momen tersebut menghadirkan suasana haru dan menjadi lambang persatuan masyarakat Paser dalam menjaga warisan budaya.

Festival Belian Nondoi 2025 bukan hanya perayaan tradisi, melainkan pengingat bahwa pembangunan fisik harus diiringi pembangunan karakter dan identitas budaya.

Kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat posisi PPU sebagai daerah dengan kekayaan budaya yang hidup, dinamis, dan menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus membuka peluang baru bagi pariwisata serta ekonomi kreatif di Benuo Taka, Gerbang Nusantara. (Svh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *